Episode Satu
Nur (Nurhayati) gadis remaja kabur dari
rumahnya di Jakarta pada malam hari
sesudah dinasehati ayahnya.
Mereka tidak dapat merestui anak mereka menikah dengan Adi yang berlainan
agama.Tetapi malang, malam itu ia terjebak oleh kawanan penjahat yang menyanderanya.
Para penjahat itu kemudian merampok rumah orangtua Nur dan menculik ayahnya. Sedangkan Nur kemudian dibawa ke Makasar.
Ayah Nur mengalami stres berat karena
kejadian itu kemudian meninggal dunia. Tak lama
kemudian ibunya juga meninggal tepeleset di pemakaman waktu ziarah ke makan ayanya.
Episode dua
Adi
Satria, pemuda asal Menado yang mencintai Nur merasa kehilangan. Nur dikenalnya sejak pertemuan di perpustakaan,
kemudian mengikuti kursus yang sama. Nurlah yang selalu mendampingi Adi ketika
dirawat di rumah sakit. Bahkan ketika Adi masih dirawat.
Sebelum
sakit Adilah yang selalu menegantar dan menjemput pulang Nur ke mana saja, ke
kampusnya, waktu kursus dan ketika megikuti senam kebugaran di Cikini.
Adi
seorang pemuda pekerja keras. Ia hidup mandiri
sejak SMP, SMA sampai kuliah setelah keluarga
kakaknya dipanggil pulang ke kampung karena karena ayahnya .di
Sulawesi sakit. Adi membuka kebun dan berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan
uang untuk membiayai hidup
dan sekolahnya. Ia juga menjual sendiri hasil kebunnya ke pasar bahkan bekerja sebagai kuli bangunan selepas sekolah.
Suatu ketika Adi merasa sakit dan lemas sehingga harus dirawat di rumah sakit.. Ia ternyata menderita sakit Types berat dan paru-paru sehingga harus dirawat beberapa bulan sambil menjalani diet berat.
Pikirannya juga
mulai terganggu dan selalu berhalusinasi. Ketakutan
seperti dikejar-kejar. Pada saat-saat seperti itu Nur selalu datang
menjenguknya.
Sekeluar
dari rumahsakit Adi berusaha
mencari infomasi tentang kekasihnya
yang masih hilang. Tak berhasil. Ia menjadi patah semangat dan sering pergi menyendiri di
tempat sepi di Taman Surapati. Adi juga masih menghadapi masalah lain. Disamping tetap harus berobat jalan, tempat tinggalnya juga terancam
digusur sehingga harus mencari tempat
baru.
Sebelum
sakit, Adi sempat bekerja di sebuah koran. Selama
dirawat sebagian gajinya tetap dibayarkan.. Tetapi koran itu kemudian ditutup. Maka ketika keluar rumah sakit Adi terpaksa
menganggur. Namun beruntung tidak lama kemudian ia dapat diterima bekerja lagi
di sebjuah perusaaan koran lainnya sampai menjadi wartawan.
Lama tak ada
kabar tentang Nur, Adi berkenalan dengan Irma (Irmawati). Gadis Kalimantan, asisten psikolog
terkenal di Jakarta. Mereka diam-diam jatuh cinta. Mereka
seiman dan bahkan mereka sudah mulai merencanakan pembangunan rumah untuk tempat tinggal mereka setelah menikah nanti.
Tapi ada
ganjalan. Orangtua Irma menghendaki suami
Irma harus seorang sarjana atau paling sedikit sama dengan Irma yang sarjana
muda. Namun Adi tak dapat memenuhi syarat itu. Meski sudah kuliah sampai tingkat lima atau kadindat sarjana, namun ia tak kunjung dapat
menyelesaikan studynya karena kesibukannya sebagai wartawan. Dia sering ditugaskan ke luar daerah.
Kalau mau meneruskan kuliah, harus melunasi
dahulu semua uang kuliah dan lain-lainnya selama tiga tahun tidak mengikuti
kuliah. Adi merasa tidak sanggup.
Episode Ketiga
Di Makasar Nur berkenalan dengan Husin pemuda
anak seorang saudagar kaya. Pemuda ini baik hati dan tampan. Namun Nur belum dapat melepaskan
cintanya kepada Adi di Jakarta. Ia menolak cinta pemuda itu dengan alasan saat itu ia belum dapat memikirkan lain kecuali orangtuanya di Jakarta. Ia berniat
akan kembali ke Jakarta. Dia memohon agar Husin bersedia menganggapnya sebagai sahabat.
Husin dapat
memahami perasaan Nur, bahkan bersedia mengantarkan Nur ke
Jakarta. Tiba di Jakarta, Nur menemukan kedua
oangtuanya telah tiada. Rumah orangtuanya sudah dijual pada orang lain. Untung Nur berjumpa dengan Wati
teman tetangga dahulu. Teman itu mengajaknya tinggal di
rumahnya.
Di tempat itu
Nur sempat mengejutkan seisi rumah. Ia mendemonstrasikan cara menjalin hubungan
persaudaraan dengan Husin yang mencintainya melalui penyatuan darah seperti
dilakukan Nabi Muhammad dengan sahabat-sahabatnya.
Sehari kemudian tiba-tiba muncul Adi. Rupanya ada
seseorang yang memberi kabar tentang telah kembalinya Nur.
Episode
keempat
Adi
mengantarkan Nur ziarah ke makam orangtuanya ditengah kebimbangannya
bagaimana kelanjutan
hubungannya dengan Irma setelah Nur muncul kembali.
Disamping itu Adi juga masih bertaya-tanya dalam hatinya bagaimana dengan pemuda Makasar yang tampan yang mengantarkan
Nur ke Jakarta. Semua belum jelas karena Nur belum menceritetarakannya. Adi juga segan
menanyakannya. Takut dibilang
cemburu.
Ketika Adi menanyakan apa rencana Nur selanjutnya, apakah akan
meneruskan kuliah, Nur menjawab ingin bekerja. “Saya tak ingin membebani keluarga Waty”, katanya.
Adi lalu menghubungi temannya,
Budiman direktur sebuah
perusahaan Radio di kawasan
Cikini. Boss Radio Siaran Komersil itu dengan senang hati menerima Nur
bekerja.
Episode kelima
Adi menghadap Rektor Perguuan Tinggi Publisistik (PTP) Drs. AMS
menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan kuliah yang sudah
tertunda tiga tahun.
Tetapi Rektor hanya memberi peluang bila Adi bersedia membayar semua uang
kuliah dan kewajiban keuangan lainnya selama ia tidak mengikuti kuliah. Adi menjawab ia tak mampu menyediakan
uang sebanyak itu. Kalau bisa minta diangsur. Tetapi Rektor menjawab tidak bisa
diangsur sesuai kebijaksanaan Pengurus PTP. Adi mengenang kembali saat-saat
lucu dan menyenangkan diplonco Perguruan
itu. Ia dinobatkan sebagai King berpasangan
dengan mahasiswa putri seorang gadis yang awal namanya juga
Nur.
Dengan gagalnya mendapatkan kelonggaran dari
kampusnya, Adi bertanya-tanya apakah hubungannya dengan Irma memang harus
kandas. Apakah keluarga Irma bersedia mengubah pendirian mereka ? Kalau berakhir apakah bisa diakhiri baik-baik ?. Lalu, kalau hubungan dengan Nur berlanjut
lagi, bagaimana dengan perbedaan agama yang dahulu dientang ayah Nur untuk
mereka dapat menikah?
Episode keenam
Irma yang pulang ke Jakarta diam-diam sepulang dari menemui orangtuanya di Kalimantan membuat Adi agak kesal. Apalagi kepindahannya ke tempat baru
tidak diberitahukan sehingga Adi harus bersusah payah menemukannya.
Irma beralasan ia dan temannya tiba-tiba disuruh
pindah, sehingga sibuk mencari rumah kontrakan baru. Dan setelah itu tempat
baru itu masih perlu dibenahi membuat mereka sibuk sehingga lupa memberi kabar.
Pembicaraan semula
berjalan menyenangkan. Terlebih ketika
membicarakan kelanjutan rencana pembangunan
rumah. Tetapi ketika Adi menanyakan kesehatan ayah Irma yang semula
dikabarkan sakit, Irma mengatakan, sebenarnya ia dipanggil berkaitan dengan hubungan mereka. Adi agak kaget. Tidak mengira orangtua Irma secepat itu menanggapi hubungan mereka, sedangkan Adi belum lama berkenalan dengan Irma.Jangan-jangan
mereka mau supaya segera menikah. Sedangkan dia belum ada persiapan. Tetapi apa
yang dipikirkannya ternyata meleset. Irma mengatakan keluarganya meminta calon suami
Irma harus seorang sarjana. Adi bertanya apakah
permintaan orangtua itu masih dapat diubah. Tapi Irma menjawab itu sudah
keputusan keluarga besar.
Lalu
Adi menjawab, kalau begitu agaknya mereka sudahy ditakdirkan untuk menempuh
hidup masing-masing. Irma bertanya apakah Adi memiliki kekasih yang lain ? Adi
menjawab, dahulu ada sekarang hanya Irma.
“ Kalau begitu kembali saja pada kekasihmu yang dulu itu”, jawab Irma dengan nada marah. Setelah itu Irma diam saja. Memaksa Adi
pamit pulang apalagi hari sudah malam
.
Episode
ketujuh
Sehabis ziarah kedua ke makam orangtua Nur di Tanah Kusir,
terjadi dialog antar Adi dengan temannya Budiman. Direktur Radio Siaran itu
menyindir Adi yang meminta membantu adik perempuannya bekerja di perusahaannya. Ia tahu, sahabatnya itu hidup hanya sendirian di
Jakarta. “Adik ketemu gede’,katanya.
Sindiran
itu diulang Nur di rumah Wati seraya dibumbu-bumbui sambil tertawa. Adi balik menyindir Nur. “Beginilah jadinya kalau bepergian dengan puteri
yang baru datang bersama seorang “pangeran tampan dari Makasar”. Nur mengerti maksud
Adi dengan sindiran itu. “Ooh….itu
rupanya masalahnya…”, kataanya. Ia lalu menceriterakan semuanya mengenai hubungannya dengan Husin. Adi merasa
puas dan merasa semua sudah jelas.
Dilain pihak
Nur juga mempertanyakan apakah perasaan Adi tidak berubah terhadap Nur setelah
kepergiannya yang begitu lama. Lalu Adi menceriterakan perasaannya ketika Nur
tidak muncul-muncul waktu ia dirawat di rumah sakit. Bagaimana ia merasa kehilangan sekeluarnya dari rumah sakit. Adi tidak berubah katanya.
Berlanjut
di Taman Surapati. Adi dan Nur
mulai membicarakan bagaimana kalau mereka menikah tetap pada keyakinan
masing-masing. Dan bagaimana mengatur pendidikan anak-anak kelak. Khususnya
pendidikan bidang agama. Sesudah sepakat, mereka juga akan berkonsultasi dengan tokoh-tokoh agama yang moderat.
Episode ke delapan
Adi
dan Nur menemui seorang Kiai dan Pendeta yang bekerja sebagai penasehat di
kantor sebuah Organisasi Antar Agama (interfeit) di sebuah kantor di kawasan
Cempaka Putih.
Mereka
menceriterakan keinginan untuk menikah
tetapi ada masalah menyangkut perbedaan
keyakinan. Keinginan mereka agar masing-masing tetap pada keyakinannya. Dan berharap
dapat diberi pertimbangan mengingat akan ada kendala dalam pengesahan
pernikahan antar agama..
Baik Pak Kiai maupun Pendeta hanya menjelaskan dasar-dasar pernikahan menurut agama Islam maupun Kristen dan tak
dapat memberi saran. Namun mereka memberikan beberapa contoh bagaimana
pasangan-pasangan yang pernah mengalami kendala yang sama dalam mengambil jalan keluarnya. Antara lain dengan menikah di luar negeri, di
negara yang dapat mengesahkan pernikahan antar pasangan beda agama.***
_______________________________
Penerbit : cv. Informatica
e-mail : sam.lapoliwa34@gmail.com
Harga : Rp 30.000,00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar